Beberapa bulan yang lalu saya berbincang-
bincang dengan sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam sebuah komunitas fotografi. Mereka bertanya, “mas, apa yang harus saya kami lakukan untuk bisa jadi fotografer professional yang baik.”
Pada kesempatan lain, di sebuah sesi workshop fotografi seorang peserta bertanya kepada pembicara yang merupakan fotografer professional yang cukup terkenal, “pak, untuk bisa bikin foto sebagus itu peralatan dan props apa saja yang harus disiapkan?”
Saya jadi teringat suatu waktu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Hari itu adalah hari terakhir sebelum
saya dan teman-teman sekelas pergi berkemah di luar kota. Wali kelas yang waktu itu seharusnya tidak mengajar,
tiba-tiba masuk ruang kelas dan menyampaikan pengumuman mengenai
daftar barang-barang yang harus di bawa pada saat berkemah besok. Beberapa barang yang ada di daftar itu memang barang-barang yang wajib di bawa karena merupakan tugas. Sementara
sebagian lainnya walaupun berupa barang-barang pribadi seperti peralatan
mandi, snack, obat-obatan, selimut
tetap disampaikan dalam daftar bawaan yang masih diberi penekanan “harus dibawa”.
Mungkin cara kita dididik yang lebih menyerupai disuapi dibandingkan dengan mengamati, mencerna, mengerti dan memilih sendiri yang membuat kita seringkali menggunakan kata-kata harus. Sehingga banyak orang yang ketika memperdalam kemampuan
berfotografi sering dihantui dan dikuasai oleh kata-kata “harus ini… dan harus itu.” Tapi apakah benar bahwa segala sesuatunya merupakan sebuah keharusan? Mengutip perkataan
seorang sahabat pada sebuah sesi tanya jawab sebuah seminar ia berkata kira-kira seperti ini, “kalau kita berbicara
tentang harus, seolah-olah kita membicarakan sesuatu yang tertulis di kitab suci sehingga kealphaan untuk melakukannya merupakan dosa.”
Ada sekelompok orang yang meyakini bahwa hidup manusia sudah ditentukan
oleh Yang Maha Pencipta lengkap dengan detail tindakan dan perkataan seperti pada sebuah screenplay sebuah
film. Orang-orang ini meyakini bahwa semua sudah digariskan oleh
“kalau kita berbicara tentang harus,
seolah-olah kita membicarakan
sesuatu yang tertulis di kitab suci sehingga kealphaan
untuk melakukannya merupakan dosa.
APAKAH HARUS !!!
Visual Fotografi, 08 Oktober, 2009BElAJAR FOTOGRAFI MELALUI JALUR OTODIDAK
Visual Fotografi, 19 September, 2009Lebih dari 90% peminat fotografi meniti jalan otodidak untuk meningkatkan kemampuan mereka berfotografi. Amat sedikit yang berkesempatan mengenyam pendidikan formal fotografi. Ada beberapa alasan yang mendasari hal ini, mulai dari sedikitnya jumlah perguruan tinggi yang menyediakan program studi fotografi di Indonesia, relatif tingginya biaya studi fotografi di luar negeri, hingga pada ketidaksetujuan orang tua dari anak yang tertarik melanjutkan pendidikan tinggi di program studi fotografi dengan alasan ketidaktahuan bahwa profesi fotografi kini bisa menghidupi.
Sebagian besar yang dengan alasan apapun tidak mengenyam bangku sekloah
fotografi terpaksa berguru di “jalan” dan di komunitas-komunitas. Namun kelompok
ini tidak bisa dianggap remeh, karena justru kelompok otodidak inilah pula
yang mendominasi nama-nama papan atas dunia perfotografian professional.
Mulai dari Sam Nugroho yang lulusan Arsitektur, Roy Genggam yang lulusan
sinematografi, Gerard Adi yang juga lulusan arsitektur, Heret Frasthio yang lulusan
komunikasi, Henky Christianto yang lulusan fakultas ekonomi, Djoni Darmo yang
lulusan teknik, dan masih banyak nama yang menjadi besar dan diakui karena
kemampuan fotografinya.
“belajar di komunitas sama seperti orang buta yang belajar berjalan kepada orang buta yang sudah lebih lama buta. Berhasil atau tidaknya bergantung kepada diri kita sendiri dan juga orang yang mengajari kita. Hal yang memungkinkan terjadinya kegagalan adalah ketika orang buta yang dipilih untuk mengajari kita ternyata bukan orang buta yang bisa “melihat”.

